Latest News

Benarkah Ada 'Virus' Radikalisme di Kampus?



TOPASINDO.COm - Rentetan aksi teror yang terjadi di Jawa Timur dan Riau seakan menggugah kembali kesadaran tentang bahaya terorisme di Indonesia. DPR RI bahkan baru saja mengesahkan Revisi Undang-Undang (RUU) Nomor 15 Tahun 2003 Tentang Tindak Pidana Terorisme disahkan menjadi undang-undang.
Di tengah kewaspadaan aksi teror, muncul pernyataan yang mengejutkan dari Direktur Pencegahan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Hamli yang mengatakan bahwa hampir semua perguruan tinggi negeri (PTN) sudah terpapar paham radikalisme.

BNPT mengungkap, Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Diponegoro (Undip), Insitut Teknologi Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB) sudah disusupi paham radikal.Menurut Hamli, penyebaran paham radikalisme kini telah berubah. Jika dulunya dilakukan di lingkungan pesantren, kini menurutnya kampus negeri maupun swasta jadi target. Bahkan secara spesifik Hamli menyebut fakultas eksakta dan kedokteran sebagai yang paling banyak terpapar.
Usut punya usut, pernyataan soal 'virus' radikalisme di kampus ini bukanlah barang baru yang dikeluarkan oleh BNPT. Dalam sebuah artikel berjul 'Radikalisme Mengincar Kampus' yang tayang di BBCIndonesia, 11 Oktober 2011, Ansyaad Mbai, yang kala itu menjabat sebagai Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) mengatakan, pihaknya mendapat laporan dari sejumlah perguruan tinggi favorit terkait masuknya radikalisme di lingkungan kampus.
Isu radikalisme yang mengintai kampus favorit di Indonesia ini menurut Ansyaad juga bukan hanya ditengarai terjadi pada fakultas agama atau kegiatan rohani saja. Tetapi juga masuk ke fakultas eksakta semacam Teknik dan MIPA. Radikalisme itu menyusup ke lingkungan kampus dengan memanfaatkan ketidakpuasan mahasiswa terhadap kinerja pemerintah.

Pengamat terorisme sekaligus Direktur The Community Ideological Islamic Analyst (CIIA), Harits Abu Ulya mempertanyakan parameter radikal yang dimaksud BNPT.“Karena selama ini ada over simplikasi soal relasi radikalisme pemikiran dengan aksi terorisme. BNPT saya lihat radikalisme pemikiran dianggap menjadi akar terorisme dan konklusi ini sangat debatable,” kata Harits kepada Topasindo Minggu (27/6/2018).
Dia menilai BNPT terjebak pada paradigma framework cultural dalam memahami radikalisme yakni membedah perilaku, sikap dan perbuatan sebagai penjelmaan nilai, sistem kepercayaan atau ideologi. “Jika terjebak pada framework ini sebenarnya akan makin sulit menjelaskan secara tuntas, lengkap dan obyektif tentang sebab terjadinya teror,” ujarnya.
Pandangan ini diamini oleh Pengamat terorisme, Al Chaidar. Menurutnya, penyebaran radikalisme di kalangan perguruan tinggi atau kampus saat ini masih sangat kecil lantaran hanya sebatas di tataran pemikiran.

“Sangat kecil radikalisme di kampus, kalau pun ada. Hanya radikal sebatas pemikiran saja. Tidak ada mahasiswa yang ingin membunuh polisi atau meledakkan bom,” ujar Al Chaidar.
Oleh karenanya Al Chaidar mengaku tidak mengerti bagaimana BNPT mengambil kesimpulan bahwa kampus-kampus terkemuka itu sudah disusupi oleh paham-paham radikal. “Mungkin radikalisme dalam persepsi BNPT berbeda dengan yang kami identifikasi,” tebaknya.
Tak sampai di situ, Al Chaidar juga menyebut bilamana nantinya BNPT akan melakukan pengawasan esktra di kampus-kampus itu lantaran dianggap sudah terdapat paham radikal, maka akan jadi sebuah langkah yang kontraproduktif.
“Justru kontraproduktif dan tidak efektif. Biar kampus menangani terorisme dengan cara mereka sendiri yang berbeda dengan cara-cara BNPT yang terbukti gagal total,” kata dia.
Bagaimanapun argumentasinya, penyebaran paham radikalisme di kampus tetap patut diwaspadai. Hal ini jugalah yang mungkin disadari oleh sebanyak 3.013 Alumni UI yang kemudian membuat pernyataan menolak radikalisme dan intoleransi di kampus.

Dilansir dari Tempo, pernyatan tersebut diserahkan ke Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Bambang Wibawarta, Kamis 24 Mei 2018. Juru bicara perwakilan Alumni UI, Pamela Cardinale menyoroti kerusuhan di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok yang tak jauh dari UI, juga sejumlah serangan teroris di daerah.
Harits menjelaskan, terorisme merupakan sebuah fenomena kompleks yang lahir dari beragam faktor. Dia membeberkan tiga faktor pemicu terorisme yakni domestik, internasional dan realitas kultural.
“Faktor domestik seperti kesenjangan ekonomi, ketidakadilan, marginalisasi, kondisi politik dan pemerintahan, sikap represif rezim yang berkuasa, kondisi sosial yang sakit,dan faktor lain yang melekat dalam karakter kelompok dan budaya,” kata Harits.
Faktor internasional adalah adanya ketidakadilan global, politik luar negeri yang arogan dari negera-negara kapitalis seperti Amerika Serikat. “Imperialisme fisik dan nonfisik dari negara adidaya di dunia Islam, standar ganda dari negara super power dan sebuah potret tata hubungan dunia yang tidak berkembang sebagaimana mestinya,” ujar Harits.
Kemudian faktor realitas kultural yang melahirkan terorisme sering timbul pada subtansi atau melalui teks-teks ajaran sebuah agama yang interpretasinya cukup variatif.
“Ketiga faktor tersebut kemudian bertemu dengan faktor-faktor situasional yang sering tidak dapat dikontrol dan diprediksi, akhirnya menjadi titik stimulan lahirnya aksi kekerasan ataupun terorisme,” pungkas Harits.