Situs Poker Online Resmi | Agen Poker Terpercaya Di Indonesia

Latest News

KPK Akan Periksa Penerima Uang Suap Proyek Bakamla dari Fayakhun


Topik Indo
- Wakil Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Basaria Panjaitan mengatakan, penyidiknya akan memanggil sejumlah pihak yang didu‎ga turut menerima uang suap dari politikus Golkar, Fayakhun Andriadi dalam kasus korupsi proyek pengadaan alat satelite monitoring Bakamla.
Pemanggilan itu dilakukan menyusul ada pengakuan dari Fayakhun kepada penyidik bahwa uang suap proyek itu mengalirkan kepada sejumlah pihak. Sejawat Fayakhun di Golkar, Yorrys Raweyai disebut-sebut juga ikut keciprat duit panas tersebut.
"‎Penyidik nanti akan mempelajari (pihak-pihak yang menerima suap), kalau kira-kira ada yang perlu dipanggil, yang perlu dikonfirmasi, nanti mereka (penyidik) akan panggil," kata Basaria saat dikonfirmasi, Kamis (17/5/2018).

Yorrys Raweyai mengaku sempat dikonfirmasi oleh penyidik KPK terkait aliran dana Rp1 miliar dari Fayakhun Andriadi ke kantong pribadinya. Uang tersebut diberikan Fayakhun melalui sopir pribadi Yorrys. ‎Namun Yorrys membantah menerima uang tersebut.
Yorrys juga menjelaskan, bahwa bukan hanya dirinya yang disebut Fayakhun Andriadi menerima uang. Berdasarkan hasil pemeriksaan penyidik, sambung Yorrys, Menteri Sosial (Mensos) Idrus Marham, serta Ketua Fraksi Golkar saat itu, Kahar Muzakir juga disebut Fayakhun menerima uang dari dirinya.
"Banyak (yang disebut) katanya. Antara lain Pak Idrus, cuma enggak bisa datang. Terus Pak Freddy, terus, ada beberapa itu, ya, Ketua Fraksi," kata Yorrys di Gedung Merah Putih KPK, Jalan Kuningan Persada, Senin, 14 Mei 2018.
Basaria mengakui, penyidik memang sedang mendalami pengakuan dari Fayakhun tersebut. Penyidik sedang mengumpulkan sejumlah bukti untuk membuktikan keterangan dari Fayakhun itu.
"Nanti kita pelajari dulu, kalau sebut-sebut nama aja engga ada buktinya gimana.‎‎ Ya paling tidak ada (bukti) petunjuk lain apa itu transfer ada dikasih uang, ada yang melihat. Kalau sebut nama saja nanti semua mabok," pungkasnya.
Fayakhun sendiri telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pembahasan anggaran proyek pengadaan alat satmon pada Bakamla tahun anggaran 2016.
Fayakhun diduga menerima ‎hadiah atau janji berupa uang setelah memuluskan anggaran proyek Bakamla. Dia mendapatkan imbalan 1 persen dari proyek senilai Rp1,2 triliun atau sebesar Rp12 miliar.

Selain itu, Fayakhun juga diduga menerima dana suap sebesar 300 ribu Dollar Amerika. Uang tersebut diduga diterima Fayakhun dari proyek pengadaan di Bakamla.
Sejumlah uang yang diterima Fayakhun tersebut berasal dari Direktur Utama Melati Technofo Indonesia (PT MTI), Fahmi Dharmawansyah melalui anak buahnya, M. Adami Okta. Uang tersebut diberikan dalam empat kali tahapan.

Sebelumnya, KPK telah lebih dulu menjerat sejumlah pihak yang diantara yakni, dua pejabat Bakamla, Nofel Hasan dan Eko Susilo Hadi, serta tiga petinggi PT Melati Technofo Indonesia, Fahmi Dharmawansyah, M. Adami Okta, dan Hardy Stefanus.‎