Situs Poker Online Resmi | Agen Poker Terpercaya Di Indonesia

Latest News

Pancasila di Tengah Tahun Politik dan Maraknya Radikalisme


TOPASINDO -
Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) menggelar upacara peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni 1945, hari ini, Jumat (1/6/2018). Perayaan ini diharapkan dapat menjadi alat pemersatu bagi semua elemen bangsa di tengah riuhnya tahun politik.
"Pesan moral yang terjadi pada peristiwa ini kan menyeru pada semangat bersatu. Pancasila ini diujungnya mengajak silaturahim, halal bihalal dan diakhiri dengan semangat berbagi, kemudian tahun tahun politik juga kan imbauan kita meskipun beda politik, beda dukungan tapi kita tetap bersatu," ujar Kepala BPIP Yudi Latif saat ditemui Topasindo di kantornya, Kamis 31 Mei 2018.
Yudi menerangkan, tema peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni kali ini yakni " Bersatu, Berbagi dan Berprestasi." Ia berharap tema tersebut dapat mengejawantahkan cita dan harapan akan kebersatuan masyarakat di tengah curamnya perbedaan.
"Jadi dari semua event ini mengerucut pada imbauan pada semangat membuat persatuan, berbagi dan berprestasi," terang dia.

Yudi tidak ingin peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni terjebak pada agenda seremonial semata. Ia ingin ada aksi nyata dalam momentum ini. Karena itu, ia berharap masyarakat dapat terlibat aktif mewujudkan sila-sila di dalam Pancasila.
Sekadar informasi, upacara peringatan hari lahir Pancasila 1 Juni 1945 digelar di halaman gedung Pancasila Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), pagi inu. Presiden Joko Widodo beserta pejabat negara lainnya akan mengikuti jalannya kegiatan tersebut.
Sementara, anggota BPIP lainnya, Romo Benny Susetyo mengatakan, Pancasila harus menjadi nilai hidup bersama di tengah derasnya arus radikalisme. Target utama penanaman nilai-nilai Pancasila saat ini yakni generasi milenial. Pasalnya, generasi tersebut acap kali terpapar paham ini.
"Tantangannya ialah bagaimana generasi milenial itu mampu menyerap Pancasila sebagai nilai hidup bersama di tengah radikalisme. Maka bagaimana itu bisa masuk dalam kehidupan mereka," ujarnya kepada TOPASINDO.

Pancasila, kata Benny, tidak boleh bersifat kaku. Itu penting dilakukan demi memenangkan hati anak-anak muda. Karena itu, ia telah memiliki format khusus pengemasan Pancasila agar dapat mengikuti perkembangan zaman dan kekinian.
"Pancasila harus bisa mengambil hati orang muda sehingga itu adalah tugas kita. Jadi pengemasan Pancasila dalam model kekinian," jelas dia.
Lebih lanjut, Romo Benny mengatakan ruang publik menjadi arena untuk pertarungan gagasan antara Pancasila dengan hal-hal lainnya. Siapa yang mampu mendominasi ruang publik, maka dialah pemenangnya.
Karenanya, ia bertekad 'menguasai' ruang publik untuk menyemaikan nilai-nilai yang terdapat di dalam Pancasila, khususnya kepada generasi milenial. "Jadi ini perebutan wacana di ruang publik. Pancasila harus mampu merebut hati generasi milenial," pungkas dia.